Tindakan Kecil

12 September 2013 1 komentar

“Bagian hidup yang terbaik dari kehidupan seseorang yang baik adalah tindakan-tindakannya yang kecil, tak bernama dan tidak pernah diingat mengenai kebaikan dan cinta.”
(William Wordsworth)

Pada suatu saat, ketika saya masih berumur belasan tahun, ayah dan saya berdiri di antrian untuk membeli tiket pertunjukan sirkus. Hingga akhirnya, hanya tinggal sebuah keluarga di antara kami dan counter tiket. Keluarga tersebut memberi kesan yang sangat mendalam dalam diri saya. Keluarga itu mempunyai 8 anak, boleh jadi semua masih di bawah usia 15 tahun. Anda bisa mengatakan kalau mereka tidak mempunyai banyak uang. Pakaian mereka sangat sederhana tetapi bersih. Anak-anaknya mempunyai sikap yang sangat baik, semua berdiri antri dengan tertib, dua-dua dibelakang orang tua mereka, sambil bergandengan tangan. Mereka semua sangat antusias berbicara tentang badut-badut sirkus, gajah, dan hal-hal lain yang akan mereka lihat malam itu. Orang pasti merasa kalau mereka belum pernah melihat sirkus sebelumnya. Tampaknya malam itu akan menjadi momen yang sangat penting dalam kehidupan masa remaja mereka.

Sang ayah dan ibu berada di depan, berdiri dengan bangga. Sang ibu memegang tangan suaminya, menatap dengan bangga seolah berkata, “kau adalah ksatriaku dengan pakaian baja yang bersinar”. Sang suami tersenyum dan penuh kebanggaan dan seolah menjawab, “memang benar”.

Penjual tiket menanyakan kepada sang ayah berapa tiket yang dia inginkan. Dengan bangga dia menjawab, “Saya membeli 8 tiket untuk anak-anak dan 2 tiket untuk dewasa agar bisa membawa seluruh keluarga saya untuk menonton sirkus.”

Penjual tiket lalu menyebutkan harga tiket yang harus dibayar. Istri lelaki tersebut melepaskan tangan suaminya,menatap suaminya, lalu kepalanya terkulai. Bibir lelaki itu nampak mulai gemetar. Sang ayah lalu mendekati penjual tiket sambil memiringkan tubuhnya dan berkata,”berapa?” Kembali penjual tiket mengatakan harganya dengan suara yang lebih keras.

Uang lelaki itu tidak cukup untuk membayarnya. Apa yang akan terjadi seandainya ia berbalik dan mengatakan kepada kedelapan anaknya bahwa dia tidak mempunyai cukup uang untuk membawa mereka melihat sirkus?

Mengetahui apa yang terjadi, ayah saya memasukkan tangan ke saku celananya, mengambil uang 20 dolar dan menjatuhkannya ke lantai secara sengaja (Kami sama sekali tidak kaya!). Ayah saya membungkuk mengambil uang tersebut, dan menepuk bahu lelaki tersebut dan mengatakan,” maaf, pak, uang ini jatuh dari saku anda”.

Lelaki itu mengetahui maksud ayah saya. Jelas dia tidak ingin minta bantuan tetapi yang pasti dia sangat menghargai bantuan tersebut dalam situasi yang putus asa., menyedihkan dan juga memalukan. Dia menatap mata ayah saya secara langsung, menyambut tangan ayah kedalam kedua tangannya, menggenggam erat 20 dolar tersebut, dan dengan bibir gemetar, dia menjawab, “Terima kasih, terima kasih.., Pak. Uang ini sangat berarti bagi saya dan keluarga saya.”

Pesan : Satu tindakan kecil yang kita lakukan untuk menyenangkan hati orang lain bisa berarti sangat banyak baginya. Jadi, gunakan setiap kesempatan yang ada di depan mata kita untuk bisa membuat orang lain tersenyum bahagia meskipun itu hanya sedikit perhatian atau hanya untuk menjadi pendengar dari masalah yang mereka rasakan.

Setangkai Mawar Merah

11 September 2013 Tinggalkan komentar

John Blanford berdiri tegak dari bangku di stasiun kereta api sambil melihat ke arah jarum jam, pukul 6 kurang 6 menit. John sedang menunggu seorang gadis yang dekat dalam hatinya tetapi tidak mengenal wajahnya, seorang gadis dengan setangkai mawar merah. Lebih dari setahun yang lalu John membaca buku yang dipinjam dari perpustakaan. Rasa ingin tahunya terpancing saat ia melihat coretan tangan yang halus di buku tersebut.

Pemilik terdahulu buku tersebut adalah seorang gadis bernama Hollis Molleon. Hollis tinggal di New York dan John tinggal di Florida. John mencoba menghubungi sang gadis dan mengajaknya untuk saling bersurat. Beberapa hari kemudian, John dikirim ke medan perang , Perang Dunia II. Mereka terus saling menyurati selama hampir satu tahun.
Setiap surat seperti layaknya bibit yang jatuh di tanah yang subur dalam hati masing-masing dan jalinan cinta merekapun tumbuh.

John berkali-kali meminta agar Hollis mengirimkannya sebuah foto. Tetapi sang gadis selalu menolak, kata sang gadis “Kalau perasaan cintamu tulus John, bagaimanapun rupaku tidak akan merubah perasaan itu, kalau saya cantik, selama hidup saya akan bertanya-tanya apakah mungkin perasaanmu itu hanya karena saya cantik saja, bagaimana kalau saya biasa-biasa saja atau cenderung jelek? Saya takut kamu akan menulis surat hanya karena kesepian dan tidak ada orang lain lagi dimana kamu bisa mengadu. Jadi sebaiknya kamu tidak usah tau bagaimana rupa saya. Sekembalinya kamu ke New York nanti kita akan bertemu muka.  Pada saat itu kita akan bebas menentukan apa yang akan kita lakukan.”

Mereka berdua membuat janji untuk bertemu di Stasiun pusat di New York pukul 6 sore setelah perang usai. “Kamu akan mengenali saya, John, karena saya akan menyematkan setangkai bunga mawar merah pada kerah baju saya”, kata nona Hollis.

Pukul 6 kurang 1 menit sang perwira muda semakin gelisah, tiba-tiba jantungnya hampir copot, dilihatnya seorang gadis yang sangat cantik berbaju hijau lewat di depannya. Tubuhnya ramping, rambutnya pirang bergelombang, matanya biru seperti langit, luar biasa cantiknya…. sang perwira mulai menyusul sang gadis, dia bahkan tidak menghiraukan kenyataan bahwa sang gadis tidak mengenakan bunga mawar seperti yang telah disepakati. Hanya tinggal satu langkah lagi kemudian John melihat seorang wanita berusia 40 tahun mengenakan sekuntum mawar merah di kerahnya. “O… itu Hollis!!!!

Rambutnya sudah mulai beruban dan agak gemuk. Gadis berbaju hijau hampir menghilang. Perasaan sang perwira mulai terasa terbagi dua, ingin lari mengejar sang gadis cantik tetapi pada sisi lain tidak ingin mengkhianati Hollis yang lembut dan telah setia menemaninya selama perang. Tanpa berpikir panjang, John berjalan menghampiri wanita yang berusia setengah baya itu dan menyapanya, “Nama saya John Blanford, anda tentu saja Nona Hollis, bahagia sekali bisa bertemu dengan anda, maukah anda makan malam bersama saya?” Sang wanita tersenyum ramah dan berkata, “Anak muda, saya tidak tau apa artinya semua ini, tetapi seorang gadis yang berbaju hijau yang baru saja lewat memaksa saya untuk mengenakan bunga mawar ini dan dia mengatakan kalau anda mengajak saya makan, maka saya diminta untuk memberitahu anda bahwa dia menunggu anda di restoran di ujung jalan ini, katanya semua ini hanya ingin menguji anda.”

Metode Pembangunan Jalan Pedesaan Berbasis Tenaga Kerja Lokal

11 September 2013 Tinggalkan komentar

jalan desa

Labour Based (Teknologi Berbasis Tenaga Kerja Lokal) merupakan metode teknologi pekerjaan jalan yang dapat diterapkan secara efisien didalam merehabilitasi jalan-jalan pedesaan. Metode teknologi ini telah ditetapkan secara baku di Kamboja dan telah menuai kerberhasilan untuk membuka, membangun, memperbaiki, dan merawat jalan-jalan pedesaan di Kamboja. Metode teknologi ini sangat efisien karena hanya menggunakan sumber daya lokal yang tersedia dalam penerapannya, seperti tenaga kerja, peralatan dan perlengkapan penerangan. Namun demikian, metode teknologi ini dapat sangat dimungkinkan terwujud dengan dukungan dan partisipasi yang sangat besar dari para insinyur lokal dan para teknisi yang memainkan peran penting dalam penerapan metode teknologi ini.

Link Pdf :

Pedoman Teknis Pembangunan Jalan Pedesaan

Don’t Judge a Book by its Cover

6 September 2013 Tinggalkan komentar

Seorang wanita yang mengenakan gaun pudar menggandeng suaminya yang berpakaian sederhana dan usang, turun dari kereta api di Boston , dan berjalan dengan malu-malu menuju kantor Pimpinan Harvard University .

Sesampainya disana sang sekretaris Universitas langsung mendapat kesan bahwa mereka adalah orang kampung, udik, sehingga tidak mungkin ada urusan di Harvard dan bahkan mungkin tidak pantas berada di Cambridge.

“Kami ingin bertemu Pimpinan Harvard”, kata sang pria lembut.

“Beliau hari ini sibuk,” sahut sang Sekretaris cepat.

“Kami akan menunggu,” jawab sang Wanita.

Selama 4 jam sekretaris itu mengabaikan mereka, dengan harapan bahwa pasangan tersebut akhirnya akan patah semangat dan pergi. Tetapi nyatanya tidak. Sang sekretaris mulai frustrasi, dan akhirnya memutuskan untuk melaporkan kepada sang pemimpinnya.

“Mungkin jika Anda menemui mereka selama beberapa menit, mereka akan pergi,” katanya pada sang Pimpinan Harvard.

Sang pimpinan menghela nafas dengan geram dan mengangguk. Orang sepenting dia pasti tidak punya waktu untuk mereka.

Dan ketika dia melihat dua orang yang mengenakan baju pudar dan pakaian usang di luar kantornya, rasa tidak senangnya sudah muncul. Sang Pemimpin Harvard, dengan wajah galak menuju pasangan tersebut.

Sang wanita berkata padanya, “Kami memiliki seorang putra yang kuliah Tahun pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di sini. Tetapi setahun yang lalu, dia meninggal karena kecelakaan. Kami ingin mendirikan peringatan untuknya, di suatu tempat di kampus ini. bolehkah?” tanyanya, dengan mata yang menjeritkan harap.

Sang Pemimpin Harvard tidak tersentuh, wajahnya bahkan memerah. Dia Tampak terkejut. “Nyonya,” katanya dengan kasar, “Kita tidak bisa Mendirikan tugu untuk setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal. Kalau kita lakukan itu, tempat ini sudah akan seperti kuburan.”

“Oh, bukan,” Sang wanita menjelaskan dengan cepat,

“Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan. Kami ingin memberikan sebuah gedung untuk Harvard.”

Sang Pemimpin Harvard memutar matanya. Dia menatap sekilas pada baju pudar dan pakaian usang yang mereka kenakan dan berteriak, “Sebuah gedung?! Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung? Kalian perlu memiliki lebih dari 7,5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik Harvard.”

Untuk beberapa saat sang wanita terdiam. Sang Pemimpin Harvard senang. Mungkin dia bisa terbebas dari mereka sekarang.

Sang wanita menoleh pada suaminya dan berkata pelan, “Kalau hanya sebesar itu biaya untuk memulai sebuah universitas, mengapa tidak kita buat sendiri saja ?”

Suaminya mengangguk. Wajah sang Pemimpin Harvard menampakkan kebingungan. Mr. dan Mrs. Leland Stanford bangkit dan berjalan pergi, melakukan perjalanan ke Palo Alto, California, di sana mereka mendirikan sebuah Universitas yang menyandang nama mereka, sebuah peringatan untuk seorang anak yang tidak lagi dipedulikan oleh Harvard. Universitas tersebut adalah Stanford University

Nilai Keikhlasan

6 September 2013 Tinggalkan komentar

Suatu hari, seorang anak lelaki miskin yang hidup dari menjual asongan dari rumah ke rumah, ia menemukan bahwa dikantongnya hanya tersisa beberapa sen uang saja, dan saat itu dia sangat lapar. Maka anak lelaki tersebut memutuskan untuk meminta makanan dari rumah berikutnya, hanya untuk menutupi rasa laparnya. Akan tetapi anak itu kehilangan keberanian saat seorang wanita muda membuka pintu rumah.

Anak itu tidak jadi meminta makanan, ia hanya punya keberanian meminta segelas air untuk menghilangkan dahaganya. Ketika wanita muda tersebut melihat, dan ia berpikir bahwa anak lelaki tersebut pastilah sangat lapar, oleh karena itu ia membawakan segelas besar susu.

Anak lelaki itu meminumnya dengan lambat, dan kemudian bertanya, “Berapa uang yang harus saya bayar untuk segelas besar susu ini?”

Wanita itu menjawab, “Kamu tidak perlu membayar apapun”. “Orang tua kami mengajarkan untuk tidak menerima bayaran untuk sebuah kebaikan, “Kata wanita itu menambahkan.

Anak lelaki itu kemudian menghabiskan susunya dan berkata, “Dari dalam hatiku yang paling dalam aku berterima kasih pada anda.”

Belasan tahun kemudian, wanita muda ini sudah menjadi tua, ia mengalami sakit yang sangat kritis. Para dokter di kota kecil dimana ia tinggal, sudah tidak sanggup menanganinya. Mereka akhirnya mengirimnya ke kota besar, dimana terdapat dokter spesialis yang mampu menangani penyakit langka tersebut.

Dr. Howard Kelly dipanggil untuk melakukan pemeriksaan. Pada saat ia mendengar nama kota asal si wanita tua tersebut, terbersit seberkas pancaran aneh pada mata dokter Kelly. Segera ia bangkit dan bergegas turun melalui ruang rumah sakit, menuju kamar si wanita tua tersebut. Dengan jubah kedokterannya ia menemui si wanita tua itu. Ia langsung mengenali wanita tua itu dengan pasti pada sekali pandang. Ia kemudian kembali ke ruang konsultasi dan memutuskan untuk melakukan upaya yang terbaik untuk menyelamatkan hidup wanita tua itu. Mulai hari itu, Ia selalu memberikan perhatian khusus pada penanganan wanita tua itu.

Setelah melalui perjuangan yang panjang, akhirnya wanita tua ini sembuh. Dr. Kelly meminta bagian keuangan rumah sakit untuk mengirimkan seluruh tagihan biaya pengobatan kepadanya untuk minta persetujuan. Dr. Kelly melihatnya, dan menuliskan sesuatu pada pojok atas lembar tagihan, dan kemudian mengirimkannya ke kamar pasien.

Wanita tua itu takut untuk membuka tagihan tersebut, ia sangat yakin bahwa ia tak akan mampu membayar tagihan tersebut sekalipun ia harus mencicil seumur hidupnya. Akhirnya Ia memberanikan diri untuk membaca tagihan tersebut, dan ada sesuatu yang menarik perhatiannya pada pojok atas lembar tagihan tersebut. Ia membaca sebuah tulisan yang berbunyi. “TELAH DIBAYAR LUNAS DENGAN SEGELAS BESAR SUSU.” TERTANDA, DR. HOWARD KELLY.

Air mata kebahagiaan membanjiri mata wanita tua ini, ia ingat pada peristiwa beberapa tahun lalu. Ia kemudian berdoa, “Tuhan, terima kasih, bahwa cinta-Mu telah memenuhi seluruh bumi melalui hati dan tangan manusia.”

Catatan : Dikutip dari berbagai sumber

Did God Create Evil [?]

6 September 2013 Tinggalkan komentar

The professor of a university challenged his students with this question. “Did God create everything that exists?” A student answered bravely, “Yes, he did”.

The professor then asked, “If God created everything, then he created evil. Since evil exists (as noticed by our own actions), so God is evil. The student couldn’t respond to that statement causing the professor to conclude that he had “proved” that “belief in God” was a fairy tale, and therefore worthless.

Another student raised his hand and asked the professor, “May I pose a question? ” “Of course” answered the professor.

The young student stood up and asked : “Professor does Cold exists?”

The professor answered, “What kind of question is that? …Of course the cold exists… haven’t you ever been cold?”

The young student answered, “In fact sir, Cold does not exist. According to the laws of Physics, what we consider cold, in fact is the absence of heat. Anything is able to be studied as long as it transmits energy (heat). Absolute Zero is the total absence of heat, but cold does not exist. What we have done is create a term to describe how we feel if we don’t have body heat or we are not hot.”

“And, does Dark exist?”, he continued. The professor answered “Of course”. This time the student responded, “Again you’re wrong, Sir. Darkness does not exist either. Darkness is in fact simply the absence of light. Light can be studied, darkness can not. Darkness cannot be broken down. A simple ray of light tears the darkness and illuminates the surface where the light beam finishes. Dark is a term that we humans have created to describe what happens when there’s lack of light.”

Finally, the student asked the professor, “Sir, does evil exist?” The professor replied, “Of course it exists, as I mentioned at the beginning, we see violations, crimes and violence anywhere in the world, and those things are evil.”

The student responded, “Sir, Evil does not exist. Just as in the previous cases, Evil is a term which man has created to describe the result of the absence of God’s presence in the hearts of man.”

After this, the professor bowed down his head, and didn’t answer back.

*Quoted From Various Sources

8 Lies of A Mother

6 September 2013 Tinggalkan komentar

The story began when I was a child; I was a son of a poor family. We did not even have enough food. When ever meal times came, mother would often give me her portion of rice. While she was removing her rice into my bowl, she would say “Eat this rice, son. I’m not hungry.”

That was Mother’s First Lie.

When I was growing up, my persevering mother gave her spare time to go fishing in a river near our house, she hoped that from the fish she caught, she could gave me a little bit of nutritious food for my growth. After fishing, she would cook some fresh fish soup, which raised my appetite. While I was eating the soup, mother would sit beside me and eat the rest of the fish, which was still on the bone of the fish I had eaten. My heart was touched when I saw that. I then used my chopstick and gave the other fish to her. But she immediately refused and said “Eat this fish, son. I don’t really like fish.”

That was Mother’s Second Lie.

Then, when I was in Junior High School…… to fund my studies, mother went to an economic enterprise to bring some used-match boxes that would need to be stuck together. It gave her some money to cover our needs. As the winter came, I woke up from my sleep and looked at my mother who was still awake, supported by a little candlelight and with perseverance she would continue the work of sticking some used-match boxes. I said, “Mother, go to sleep, it’s late, tomorrow morning you still have to go to work. Mother smiled and said “Go to sleep, dear. I’m not tired.”

That was Mother’s Third Lie.

The final term arrived….. ..Mother asked for leave from work in order to accompany me. While the sun was starting to shine strongly, my persevering mother waited for me under the heat for several hours. As the bell rang, which indicated that the final exam had finished, mother immediately welcomed me and poured me a cup of tea that she had brought in a flask. Seeing my mother covered with perspiration, I at once gave her my cup and asked her to drink too. Mother said “Drink, son. I’m not thirsty! “

That was Mother’s Fourth Lie.

After the death of my father due to illness, my poor mother had to play her role as a single parent. She had to fund our needs alone. Our family’s life was more complicated. No days without suffering. Our family’s condition was getting worse, a kind uncle who lived near our house assisted now and then. Our neighbors often advised my mother to marry again. But mother was stubborn and didn’t take their advice; she said “I don’t need love.”

That was Mother’s Fifth Lie.

After I had finished my studies and got a job, it was the time for my old mother to retire. But she didn’t want to; she would go to the market place every morning, just to sell some vegetables to fulfill her needs. I, who worked in another city, often sent her some money to help her, in fulfilling her needs, but she would not accept the money. At times, she even sent the money back to me. She said “I have enough money.”

That was Mother’s Sixth Lie.

After graduating with a Bachelors Degree, I then continued to do a Masters Degree. It was funded by a company through a scholarship program. I finally worked in the company. With a good salary, I intended to bring my mother to enjoy her life in Gulf. But my lovely mother didn’t want to bother her son. She said to me, “I am not use to.”

That was Mother’s Seventh Lie.

In her old age, mother got stomach cancer and had to be hospitalized. I, who lived miles away, across the ocean, went home to visit my dearest mother. She lay in weakness on her bed after having an operation. Mother, who looked so old, was staring at me in deep thought. She tried to spread her smile on her face…but it was a noticeable effort. It was clear that the disease had weakened mother’s body. She looked so frail and weak. I stared at my mother with tears flowing. My heart was hurt,… so hurt, seeing my mother in that condition. But mother with the little strength she had, said “Don’t cry, my dear. I’m not in pain.”

That was Mother’s Eighth and Last Lie. After saying her eighth lie, my Dearest mother closed her eyes forever

*Quoted from various sources

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: