Bambu


Bambu

 

Bambu merupakan tumbuhan alam yangsejak zaman purbakala sudah dikenal manusia dan dipergunakan untuk berbagai keperluan. Karena tumbuh luar biasa cepat dan memiliki sifat-sifat kekuatan dan elastisitas yang tinggi, bambu dapat digunakan berbagai keperluan.

Dalam kehidupan masyarakat pedesaan di  Indonesia, bambu memegang peranan sangat penting. Bahan bambu dikenal oleh masyarakat memiliki sifat-sifat yang baik untuk dimanfaatkan, antara lain batangnya kuat, ulet, lurus, rata, keras, mudah dibelah, mudah dibentuk dan mudah dikerjakan serta ringan sehingga mudah diangkut. Selain itu bambu juga relatif murah dibandingkan dengan bahan bangunan lain karena banyak ditemukan di sekitar pemukiman pedesaan. Bambu menjadi tanaman serbaguna bagi masyarakat pedesaan. Bambu tergolong hasil hutan non kayu yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Oleh karena itu tidak berlebihan bila dikatakan bambu sebagai tanaman serba guna. Karena perannya sebagai tumbuhan serba guna, bambu dapat digunakan sebagai alternatif pengganti kayu. Dengan pemakaian bambu diharapkan penggunaan kayu menjadi berkurang yang akhirnya dapat mengurangi penebangan hutan. Hal ini merupakan upaya dalam pelestarian hutan.

Disamping itu struktur dari bambu cukup ringan dan lentur sehingga bangunan dari struktur bambu mempunyai ketahanan tinggi terhadap gempa. Peran bambu pada masa yang akan datang, diperkirakan akan meningkat sesuai dengan peningkatan jumlah penduduk dan kegiatan pembangunan. Dengan demikian bambu merupakan jenis tanaman yang penting untuk dikembangkan sebagai hutan tanaman, baik di dalam maupun di luar kawasan. Bambu mempunyai serat yang sejajar, sehingga kekuatannya terhadap gaya normal cukup baik. Bambu berbentuk pipa sehingga momen lembamnya besar, tetapi ringan, dengan adanya ruas-ruas maka bahaya tekuk lokal cukup rendah. Disamping sifat-sifat yang positif diatas bambu juga memiliki kelemahan yaitu kurang kuat dalam menahan gaya geser baik akibat pembebanan jangka panjang maupun jangka pendek.

Bambu merupakan tanaman berumpun dan termasuk dalam famili gramineae dan terdapat hampir diseluruh dunia kecuali di Eropa. Jumlah yang ada di daerah Asia Selatan dan Asia Tenggara kira-kira 80% dari keseluruhan yang ada di dunia (Uchimura, 1980). Dari kurang lebih 1.000 spesies bambu dalam 80 genera, sekitar 200 species dari 20 genera ditemukan di Asia Tenggara (Dransfield dan Widjaja, 1995), sedangkan di Indonesia ditemukan sekitar 60 jenis, tetapi tidak semuanya merupakan tanaman asli Indonesia. Tanaman bambu Indonesia ditemukan di dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian sekitar 300 m dpl. Pada umumnya ditemukan ditempat-tempat terbuka dan daerahnya bebas dari genangan air.

Di Indonesia bambu merupakan tanaman yang sudah dikenal oleh masyarakat sebagai bahan bangunan sejak ratusan tahun lalu. Tanaman bambu hidup merumpun, kadang-kadang ditemui berbaris membentuk suatu garis pembatas dari suatu wilayah desa yang identik dengan batas desa di Jawa. Tanaman rumpun bambu dapat ditemui di pedesaan, bahkan sebagian besar masyarakat desa mempunyai bambu di pekarangannya. Penduduk desa sering

menanam bambu disekitar rumahnya untuk berbagai keperluan. Bermacammacam jenis bambu bercampur ditanam di pekarangan rumah. Pada umumnya yang sering digunakan oleh masyarakat di Indonesia adalah bambu tali, bambu petung, bambu andong dan bambu hitam.

Struktur anatomi bambu

Struktur anatomi batang bambu mempunyai kaitan erat dengan sifat-sifat fisik dan mekaniknya. Menurut Liese (1980), bambu memiliki ciri-ciri antara lain pertumbuhan primer yang sangat cepat tanpa diikuti pertumbuhan sekunder, batangnya beruas-ruas semua sel yang terdapat pada internodia mengarah pada sumbu aksial, sedang pada nodia mengarah pada sumbu transversal, dalam internodia tidak ada elemen-elemen radial (misalnya jari-jari) kulit bagian luar terdiri dari satu lapis epidermis, sedang kulit bagian dalam terbentuk dari

sklerenkim. Struktur melintang ruas ditentukan oleh ikatan pembuluh. Pada bagian tepi, ikatan pembuluh berukuran kecil dan berjumlah banyak. Pada bagian dalam ikatan pembuluh berukuran besar dan berjumlah sedikit, secara umum dalam batang jumlah ikatan pembuluh menurun dari pangkal ke ujung dan kerapatannya meningkat.

Dimensi bambu

Menurut Prawiroatmodjo (1976), perubahan dimensi bambu tidak sama dari ketiga arah stuktur radial, tangensial dan longitudinal sehingga kayu atau bambu bersifat anisotropis. Kedua jenis perubahan dimensi mempunyai arti yang sama penting, tetapi berdasarkan pengalaman praktis yang lebih sering menggunakan bambu dalam keadaan basah, maka pengerutan bambu menjadi perhatian yang lebih besar dibanding pengembangannya. Angka pengerutan total untuk kayu atau bambu normal berkisar antara 4,5% sampai 14% dalam arah radial, 2,1% sampai 8,5% dalam arah tangensial dan 0,1% sampai 0,2% dalam arah longitudinal.

Pada penampang melintang bambu, makin mendekati bagian kulit batang susunan sel sklerenkim semakin rapat, sehingga kekuatan batang bambu paling besar berada pada bagian batang sebelah luar, selanjutnya pada kulit bagian luar bambu terdapat lapisan tipis dan halus yang sangat kuat. Dari pangkal ke ujung batang lapisan ini cenderung semakin tipis. Karena adanya bagian kulit batang bambu yang sangat kuat ini, maka perubahan dimensi akan terpengaruh yaitu dimensi bambu akan lebih stabil terutama ke arah tangensial. Akibatnya variasi kekuatan bagian kulit ini akan menyebabkan variasi penyusutan tangensial (Sutapa,1986).

Limaye (1952) menyatakan, bahwa ukuran diameter bambu berkorelasi dengan tingkat ketebalan batang, sedang tingkat ketebalan batang berpengaruh terhadap sifat : anatomi, fisika dan mekanika. Dengan demikian, bambu yang berbeda ukuran diameternya akan mempunyai sifat : anatomi, fisika dan mekanika yang berbeda pula, dikutip oleh Suranto, 1992.

Batang bambu pada umumnya berupa silinder cembung dengan diameter 1 cm hingga 25 cm dan mempunyai ketinggian bervariasi 1 m hingga 40 m. Diameter bambu berkurang sejalan dengan panjangnya, dari pangkal hingga ujung. Bambu yang cembung ini secara total dipisahkan pada buku-bukunya oleh diafragma transversal (Ghavami dan Martiseni, 1987), dikutip kembali oleh Ghavami, 1988.

Secara umum 40% hingga 70% serat terkonsentrasi di bagian luar dan 15% hingga 30% di bagian dalam batang. Serat-serat tersebut terarah sepanjang sumbu batang dengan diameter 0,08 mm hingga 0,70 mm, tergantung pada spesies dan lokasinya pada tampang-lintang. Pada buku-buku (nodia), serat-serat ini saling bertautan dan sebagian memasuki diafragma dan cabang-cabang. Sebagai akibat dari diskontinyuitas ini buku-buku pada umumnya merupakan titik terlemah dari batang bambu (Ghavami, 1988).

Bambu sebaiknya dipotong pada waktu musim panas agar kadar airnya sedikit sehingga perubahan dimensinya kecil. Bambu cenderung menyerap jumlah air yang besar bila terendam atau tertimpa hujan dan bila hal ini berlangsung pada waktu yang cukup lama, bambu dapat menyerap hingga 100% dari berat keringnya. Penyerapan air ini diikuti oleh pembesaran dimensi yang bertambah sebanding dengan penyerapan hingga mencapai batas kejenuhan / saturation point.

Sifat fisik dan mekanik bambu

Sifat fisik dan mekanik merupakan informasi penting guna memberi petunjuk tentang cara pengerjaan maupun sifat barang yang dihasilkan. Beberapa hal yang mempengaruhi sifat fisik dan mekanik bambu adalah umur, posisi ketinggian, diameter, tebal daging bambu, posisi beban (pada buku atau ruas), posisi radial dari luas sampai ke bagian dalam dan kadar air bambu. Menurut Brown (1952) pada dasarnya sifat-sifat fisik kayu ditentukan oleh

faktor-faktor yang inheren pada struktur kayu. Faktor-faktor tersebut dapat dibagi tiga, yaitu :

1. Banyaknya zat dinding sel yang ada pada sepotong kayu

2. Susunan dan arah mikrofibril dalam sel-sel dan jaringan-jaringan

3. Susunan kimia zat dinding sel

Selanjutnya Liesse (1980), menyatakan bahwa secara anatomi dan kimiawi

bambu dan kayu hampir sama, oleh karena itu faktor-faktor yang berpengaruh pada kayu juga berpengaruh pada sifat-sifat bambu. Faktor-faktor ini adalah kandungan air dan berat jenis.

Kadar air serbuk bambu dalam kondisi kering angin berkisar antara 11,07% hingga 15,47%. Kadar air tidak terpengaruh oleh faktor posisi vertikal batang dan umur bambu. Artinya, kadar air pada serbuk bambu dalam kondisi kering angin tidak banyak bervariasi menurut posisi vertikal batang maupun menurut umur bambu (Suranto, 1994). Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kekuatan bambu adalah berat jenis bambu. Berat jenis dinyatakan sebagai perbandingan antara berat kering tanur suatu benda terhadap berat suatu volume air yang sama dengan volume benda itu. Berat jenis bambu merupakan ungkapan banyaknya zat kayu atau sel dinding sel. Bambu yang mempunyai berat jenis besar berarti mempunyai jumlah zat dinding sel persatuan volume besar. Selanjutnya zat kayu ditentukan oleh beberapa faktor antara lain tebal dinding sel, besarnya sel dan jumlah sel berdinding tebal. Jumlah sel berdinding pada bambu berarti jumlah sel sklerenkim pada bambu tersebut.

Menurut Surjono (1993), sifat mekanik adalah sifat yang berhubungan dengan kekuatan bahan dan merupakan ukuran kemampuan suatu bahan untuk menahan gaya luar yang bekerja padanya. Gaya luar adalah gaya yang datangnya dari luar benda tersebut ( membebani benda tersebut ) dan cenderung merubah ukuran dan bentuk benda tersebut. Sifat-sifat mekanik tersebut meliputi kekuatan lentur statis, kekuatan tarik, kekuatan geser, sifat kekerasan dan lain-lain ( Wangaard, 1950 dalam Lukman ). Kumar dan Dobriyal (1990), berdasarkan hasil penelitiannya menyatakan bahwa kekuatan bambu bagian luar lebih dari dua kali kekuatan bambu bagian dalam. Selanjutnya Morisco (1996), mengadakan pengujian kekuatan bambu Ori (Bambusa Bambos Backer), bambu Petung (Dendrocalamus Asper Schult ), bambu Wulung (Gigantochloa Vertcillata Munro), serta bambu Tutul (Bambusa Vulgaris Schrad).

 

About these ads
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: