Beranda > Civil and Environment > Kajian Longsor Pada Sungai (Studi Kasus: Longsoran Lereng Embung Jering di Desa Sidorejo Kecamatan Godean Kabupaten Sleman)

Kajian Longsor Pada Sungai (Studi Kasus: Longsoran Lereng Embung Jering di Desa Sidorejo Kecamatan Godean Kabupaten Sleman)


Jenis tanah pada pembentuk lereng sangat berpengaruh terhadap terjadinya longsoran. Dari hasil pengamatan di lapangan dan hasil uji di laboratorium, jenis tanah pada lapisan atas berupa tanah lempung. Salah satu sifat dari lempung adalah mudah menyerap air karena softening sehingga tanah  menjadi lunak. Pada tanah lempung berbutir halus, sebelum tanah runtuh, di permukaan tanah akan tampak retak-retak. Kondisi ini mengindikasikan telah terjadi gerakan tanah dan keseimbangan kritis antara gaya geser yang timbul akibat beban tanah yang akan longsor dengan tahanan geser bidang gelincirnya telah terjadi.

Uji laboratorium juga menunjukkan derajat kejenuhan air sangat tinggi hingga mencapai 100%. Semakin tinggi derajat kejenuhan tanah, maka matric suction semakin rendah. Hal itu menyebabkan kuat geser tanah berkurang, sehingga stabilitas lereng pun turun.

Dari hasil uji permeabilitas tanah, nilai koefisien permeabilitas tanah sangat kecil yaitu berkisar antara 10-4-10-6 cm/detik. Sehingga kemampuan tanah dalam meloloskan air rendah sampai sangat rendah. Hal itu menunjukkan bahwa air di dalam tanah akan sulit mengalir keluar, sehingga air tertahan di dalam tanah dan mengakibatkan tanah menjadi jenuh, berat volume tanah bertambah . Jika berat volume tanah bertambah, maka beban pada lereng akan semakin berat. Lereng menjadi rawan longsor.

Kondisi geologi lereng embung Jering terdiri dari lapisan atasnya lempung atau lanau dan lapisan bawah berupa cadas/batu pasir tufan. Batas antara dua lapisan tanah yang berbeda karakteristiknya, mempengaruhi kestabilan lereng. Bidang kontak kedua lapisan ini merupakan bagian yang lemah dan berpotensi menjadi bidang gelincir dari tanah yang akan longsor. Hal itu dikarenakan pada bagian ini tahanan tanah dalam menahan geseran lebih rendah.

Kondisi iklim saat terjadinya longsor adalah pada musim penghujan, dimana sebelumnya merupakan musim kemarau yang kering. Hujan dengan intensitas tinggi dan durasi yang lama di awal musim hujan akan menimbul­kan perubahan parameter tanah yang berkaitan dengan pengurangan kuat gesernya. Tanah lempung menyusut  dan retak-retak ketika musim kemarau. Dan saat musim hujan tiba, air dengan mudah terinfiltrasi ke dalam tanah lewat retakan-retakan di permukaan tanah. Air hujan ini dapat menambah licin bidang geser. Ditambah lagi sifat tanah lempung yang menyerap air. Ketika terjadi hujan lebat dengan durasi waktu yang lama, muka air tanah naik, tanah menjadi mengembang (sangat jenuh), massa tanah bertambah berat, kuat geser tanah turun, sehingga menimbulkan gerakan lateral.

Pada kondisi tanah kenyang air, maka seluruh ruang pori tanah terisi air, tekanan air pori (uw) akan sama dengan tekanan udara pori (ua), sehingga matric suction (ua– uw) diabaikan (= 0). Oleh karena tekanannya berupa tekanan air positif , maka parameter tegangan dalam tanah menjadi tegangan efektif ( s ‑ uw ). Dalam tinjauan tegangan efektif, kuat geser tanah (t) = c’ + ( s – uw ) tg j. Dimana c’ = kohesi efektif, s = tegangan normal pada bidang runtuh, j’= sudut gesek dalam efektif, uw = tekanan air pori. Jika tekanan air pori (uw) naik, maka tegangan normal efektif berkurang yang berakibat turunnya kuat geser tanah, sehingga stabilitas lereng berkurang.

Rekahan pada permukaan tanah, memudahkan air hujan masuk ke dalam tanah. Masuknya air hujan akan menaikkan tinggi muka air tanah, sehingga tanah menjadi jenuh dan beban lereng semakin berat. Sehingga hal tersebut dapat memicu terjadinya longsor. Selain itu, juga ditemukan rembesan pada daerah kaki lereng menimbulkan terjadinya peristiwa erosi buluh (piping). Pada kondisi ini tanah di bagian kaki lereng kehilangan kuat dukungnya dan bahkan mendekati harga sama dengan nol, sehingga perlawanan terhadap gaya yang melongsorkan menurun, dan lereng menjadi rawan longsor. Rembesan air ini berasal dari saluran sekunder yang berada di atas lereng.

Selengkapnya: kajian longsor pada sungai

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: