Beranda > Civil and Environment > Analisa Penutupan Bandara Adisutjipto Akibat Abu Vulkanik

Analisa Penutupan Bandara Adisutjipto Akibat Abu Vulkanik


Pemerintah memutuskan memperpanjang penutupan Bandara Adisutjipto, Yogyakarta, hingga 20 November 2010. Keputusan ini terkait krisis Gunung Merapi. Letusan Gunung Merapi sangat berdampak pada dunia penerbangan. PT Angkasa Pura II selaku pengelola telah memutuskan, bahwa Bandara Adisucipto Yogyakarta, ditutup hingga 15 November 2010. Debu vulkanik Merapi jadi alasan utama.  Selain Bandara Adisutjipto, terdapat sebanyak tujuh bandara komersial di Jawa yang berpotensi terkena dampak semburan abu vulkanik Gunung Merapi, yang berlokasi di perbatasan DI Yogyakarta dan Jawa Tengah. Debu halus yang bertaburan di udara ini dikhawatirkan terhisap mesin pesawat, sehingga mengakibatkan kerusakan dan mengancam penerbangan. Dalam kompas 2010, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Harry Bhakti S Gumay mengatakan; “ancaman abu vulkanik Gunung Api terhadap bandara di Jawa tergantung pada arah tiupan angin. Saat ini posisi arah angin berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) berhembus ke utara dan selatan”.

Menurut badan riset geologi AS (USGS), bahaya yang ditimbulkan abu vulkanik mengancam penerbangan pesawat dari berbagai factor;

1. Menurunkan Kinerja Mesin dan Bisa Menyebabkan Gagal Mesin

Abu yang masuk ke dalam mesin jet bisa menyebabkan penurunan kinerja dan kerusakan yang tiba-tiba pada mesin. Endapan debu di bagian mesin yang panas, membuat unsur kaca dari debu vulkanik itu lumer dan menyelubungi bagian nozzle, pembakar, serta turbin. Ini jelas bisa mengurangi efisiensi pencampuran bahan bakar dengan udara yang masuk ke dalam mesin. Akibatnya, mesin akan mengalami kehilangan daya dorong, jalannya tersentak-sentak. Abu vulkanik juga bisa mengikis komponen bergerak pesawat seperti kompresor dan baling-baling turbin.

2. Abu Mengabrasi Komponen luar pesawat

Abu vulkanik mengandung elemen yang keras seperti fragmun batu-batuan yang tajam, sehingga bersifat sangat abrasif. Ia dengan mudahnya menggerus komponen pesawat yang terbuat dari plastik, kaca, dan logam. Biasanya, sisi muka pesawat juga bisa rusak oleh debu vulkanik ini, termasuk kokpit, kaca kabin depan, pelindung lampu pendaratan, pinggiran sayap depan dan sayap rudder ekor, penutup mesin, dan bagian radar. Kaca kokpit juga bisa sangat terabrasi sehingga pilot mengalami kesuliatn untuk melihat jalur runway saat pendaratan.

3. Abu Mengkontaminasi Interior Pesawat

Udara yang memasuki pesawat awalnya memasuki mesin. Namun abu lainnya juga bisa masuk melalui ventilasi dan masuk ke dalam pesawat. Abu ini bisa membuat sistem filter udara macet, menyebar ke seluruh kabin, mengkontaminasi peralatan kabin, karpet, penutup kursi, dan bantal. Bahkan, abu juga bisa mengakibatkan kerusakan sistem elektronik pesawat, termasuk sistem pembangkit listrik dan instrumen-instrumen navigasi

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: